Dongeng
Sudah dua hari ini aku menjadi pendiam. Aku sering menyendiri dan melamun. Bahkan pernah, saat istirahat sekolah tiba-tiba aku menangis tersedu-sedu. Monita yang duduk di sebelahku sampai merasa heran. "Sudahlah, Wi! Malu dilihat teman-teman," ujar Monita. Aku berusaha menahan tangisku. Pulang sekolah hari ini aku semakin gelisah. Biasanya kalau Sabtu begini aku paling bersemangat. Selain besoknya libur, hari Sabtu selalu istimewa bagiku. Sebab ayahku yang bekerja di luar kota pasti pulang. Aku bertemu Ayah hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Tetapi hari Sabtu kali ini suasananya berbeda sekali. "Makan dulu, Wi! Tenagamu kan banyak berkurang di sekolah," tegur Ibu.
Aku hanya menggeleng. "Masih kenyang, Bu."
Sudah dua hari ini aku menjadi pendiam. Aku sering menyendiri dan melamun. Bahkan pernah, saat istirahat sekolah tiba-tiba aku menangis tersedu-sedu. Monita yang duduk di sebelahku sampai merasa heran. "Sudahlah, Wi! Malu dilihat teman-teman," ujar Monita. Aku berusaha menahan tangisku. Pulang sekolah hari ini aku semakin gelisah. Biasanya kalau Sabtu begini aku paling bersemangat. Selain besoknya libur, hari Sabtu selalu istimewa bagiku. Sebab ayahku yang bekerja di luar kota pasti pulang. Aku bertemu Ayah hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Tetapi hari Sabtu kali ini suasananya berbeda sekali. "Makan dulu, Wi! Tenagamu kan banyak berkurang di sekolah," tegur Ibu.
Aku hanya menggeleng. "Masih kenyang, Bu."




